Kemitraan antara

Menuju Transisi Energi
Rendah Karbon di Indonesia

G&I Webinar: Pengarusutamaan Gender dan Inklusi Sosial dalam Investasi Energi Terbarukan di Indonesia, Rabu, 26 Agustus 2020

Investasi Energi Terbarukan Bisa Meningkatkan Kesetaraan Gender Di Willayah Terpencil

 

Jakarta, 26 Agustus 2020- Investasi energi terbarukan bukan hanya memberikan dampak positif dalam memberikan akses energi listrik, tetapi juga memberikan dampak sosial yang baik bagi masyarakat, salah satunya adalah peningkatan kesetaraan gener, terutama di pedesaan dan daerah terpencil.

“Karena itu, integrasi energi terbarukan diperlukan melalui APBN dan sejak 2011 memberi dampak positif pada aspek sosial seperti menyiapkan rasa aman dan nyaman kepada bayi, anak-anak, dan perempuan, serta meningkatkan penghasilan tambahan bagi perempuan dan kemudahan dalam menjalankan tugas ibu rumah tangga.  Infrastruktur ini memberi kesempatan kepada laki-laki perempuan berperan dalam aspek perencanaan dan pemanfaatan pembangkit enrgi terbarukan menjadi bendahara dalam pembangkit dan kegiatan lain,” jelas Harris Yahya, Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan, Kementerian ESDM.

Pernyataan Harris merangkum semua pembahasan yang didiskusikan dalam, “Webinar Pengarusutamaan Gender dan Inklusi Sosial Dalam Investasi Energi Terbarukan Indonesia,” yang dilakukan di Jakarta, pada 26 Agustus 2020. Diskusi ini menghadirkan Carlijn Freutel dari Palladium Internasional, Kelly Robbins sebagai Associate Director di Palladium Impact Capital, Prabaljit Sarkar seorang Director of Business Development untuk Infraco Asia. Serta Rubin Japhta sebagai  Advisory Services Program Manager untuk IFC’s Financial Institution Group di Indonesia, dan the Gender Finance Specialist untuk the Asia Pacific region. Diskusi dipandu langsung oleh Janske van Elicjk, the General Inclusion Advisor untuk Program MENTARI.

Dalam webinar ini terungkap, menyertakan gender dan inlusif menjadi penting bahkan menjadikan “investasi” di bidang energi terbarukan juga cukup menjanjikan. Karena menurut Prabalit Sarkar, dalam pengalaman Infraco Asia, perempuan bisa berperan dalam tiga cara utama, yaitu menjadi pengguna utama energi terbarukan untuk meningkatkan permintaan energi; Menjadi sumber rantai pasokan tenaga kerja, bagian penting dari sumber daya manusia; Perempuan juga memiliki peran sebagai pemangku kepentingan.

Prabalit menyebutkan contoh proyek mereka di salah satu provinsi di Myanmar. Infraco Asia memiliki proyek tenaga surya 160 volt yang terhubung ke jaringan. Para perempuan menjadi penggerak proyek ini. Dari yang berperan menjadi staf proyek, fasilitator, dan memastikan suara kebutuhan komunitas terdengar. Membuat proyek ini menjadi dinamis dan lebih hidup lagi. Di Filipina, hal yang sama juga terjadi untuk proyek mereka di Kepulauan Lubang dan San Isidro Palawan yang berada 150 km dari kota Manila.  InfraCo mempunyai proyek tahun 2021 ini bernama Smartsolar off-grid untuk menerangi 4,000 rumah tangga dengan kapasitas sebesar 1,28 megawatt. Proyek SmartSolar telah beroperasi sebagai pintu terbuka dalam berbagai peluang ekonomi bagi perempuan.

“Misalnya, Sonia kini mendapatkan penghasilan tambahan dengan menjalankan stasiun pemuatan untuk proyek tersebut. Dia, dengan naluri bisnisnya juga mampu membeli fitur yang memungkinkannya menjual permen es buatannya sendiri. Dalam komunitas proyek yang sama, pekerja kesehatan, proyek jaringan SmartSolar Agnes telah meningkatkan penyediaan produksi layanan medis dari kapsul hingga perawatan maternitas yang penting bagi masyarakat pulau. Kita juga telah melihat betapa pentingnya akses infrastruktur dapat meningkatkan akses perempuan terhadap pendidikan dan peluang ekonomi, seperti halnya dewan pemuda,” ungkap Prabalit.

Sementara Kelly Robbins yang menekankan selalu menyetakan investasi gender dan inklusif dalam berbagai bidang investasi. Salah satu contohnya adalah bisa melalui struktur investasi yang inovatif melalui pembiayaan pinjaman dengan skema yang ramah. Program tersebut menciptakan pendanaan dari Bank BAC, di Nikaragua, untuk menciptakan produk pinjaman baru, dan menciptakan dana yang dijamin untuk mengurangi risiko uji coba pinjaman itu. Produk pinjaman untuk UKM ini tidak diagunkan tetapi berdasarkan riwayat dan proyeksi arus kas, melalui tautan ke simpanan bank dan rekening transaksional.

“Setelah berhasil diujicobakan di Nikaragua, bahkan selama periode pergolakan politik dan ekonomi yang signifikan, ternyata tingkat kegagalannya nol persen, bahkan telah mendorong perluasan program ini. Dan Palladium sekarang membantu untuk memperluas program ini dan saya akan Salvador dan Kolombia, dan sedang mencari mitra di Indonesia, dan di Asia Selatan dan Pasifik,” jelasnya.

Sedangkan Rubin Japhta memberikan contoh proyek IFC dengan membmerikan pelatihan kewirausahawam yang diresonansikan dengan perempuan untuk akses listrik di wilayah perbatasan. Mereka memberikan materi tentang ketrampilan pemasaran dan penjualan yang praktis untuk perempuan. Pelatihan ini juga telah meningkatkan rasa percaya diri para peserta perempuan yang juga meningkatkan pemahaman dan pengetahuan mereka tentang manfaat ekonomi dari produk tenaga surya.

“Mereka mampu menyampaikan konsep-konsep ekonomi yang tidak selalu mudah dipahami itu, dengan cara yang sangat sederhana, sehingga masyarakat dapat memahami apa saja manfaat ekonomi, serta manfaat kesehatan dari pengadopsian teknologi ini. Di India, kami telah menjangkau lebih dari 7 juta orang di sekitar tujuh negara bagian yang berbeda di India melalui “proyek petir” India ini,” jelasnya.

Senada juga diungkapkan Carlijn Freutel. Bahkan pihaknya terus mempe mempelajari cara terbaik untuk mengarusutamakan inklusi gender dalam semua pekerjaan, termasuk investasi. (Musfarayani/MENTARI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Related Post