Kemitraan antara

Menuju Transisi Energi
Rendah Karbon di Indonesia

Webinar Voices of Women in STEM: A Conversation, Rabu, 17 Februari 2021

Perempuan Sangat Bisa Menekuni dan Berkarir Sukses di Bidang STEM

Jakarta, 17 Februari 2021 – Perempuan menekuni bidang STEM (Sains, Teknologi, Engineering, dan Matematika) adalah hal yang sangat mungkin. Bahkan bisa berkarir dan suskes di bidang tersebut, termasuk ke ranah “green jobs,” seperti di bidang Enegi Terbarukan. Hal ini terungkap dalam Voices of Women in STEM : A Conversation,  yang di gelar bersamaan dengan perayaan Hari Internasional Perempuan dan Anak Perempuan Dalam sains, di Jakarta, (17/2).

Acara ini adalah kerjasama dari British Council, Program MENTARI dan didukung oleh Kedutaan Besar Inggris di Jakarta, dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Kegiatan ini menampilkan beberapa narasumber perempuan inspiratif yang sukses dan kini berkarya di bidang STEM. Paparan ini juga membahas terkait dengan Green Jobs dan technical education, hingga program beasiswa Women in STEM.

Tampil sebagai narasumber di acara ini Femmy Soemantri dari Partnership and Advocacy lead di Pulse Lab Jakarta; Profesor Dwikorita Karnawati, Ph.D yang merupakan kepala dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika atau (BMKG);  Sri Fatmawati, S.Si, M.Sc, Ph.D. Ketua dari Organisation of Women in Science for Developing World;  Amelia Buddhiman sebagai Project Manager di Akuo Energi.

Hugh Moffat selaku Country Director British Council Indonesia, menyatakan merasa bangga bisa menunjukan perempuan-perempuan inspiratif yang ada di Indonesia di bidang STEM. Karena selama ini akses ke pendidikan adalah faktor khusus dan faktor penyebab rendahnya representasi perempuan di STEM, tidak hanya di Indonesia, di seluruh dunia dan di Inggris. Menurutnya dibutuhkan banyak perempuan lagi untuk bekerja di bidang STEM.

“Untuk mewujudkan hal itu,  British Council akan  membuka peluangnya. Kami berfokus pada anak perempuan tetap bersekolah. Fokus mendukung perempuan terlibat dalam  kepemimpinan dan jaringan dalam sains di STEM. Jadi, tahun ini  dengan senang hati kami mengumumkan bahwa kami memiliki Beasiswa Women in STEM yang memberikan kesempatan bagi 90 perempuan di seluruh dunia 15 di antaranya di Asia. Anda para perempuan dapat melamar peluang ini dari tiga Universitas di Inggris. Kami memiliki Universitas Glasgow, yang menawarkan kursus dalam transisi energi dan perubahan iklim, Universitas John Moores di Liverpool yang mengamati kesehatan di Lifesciences, dan Universitas Stirling di seputar pertanian,” jelasnya.

Sementara Julio Retana sebagai Team Leader Program MENTARI menjelaskan tentang Green Jobs dan peta perempuan di Indonesia dalam hal STEM. Namun sebelum  dia menjelaskan lebih lanjut, dia bercerita tentang betapa sedikitnya perempuan yang mendalami STEM. Namun begitu perempuan terlibat di dalamnya, mereka dikenal sebagai yang terdepan dan dikenal sebagai lulusan terbaik dengan nilai terbaik.

“Sejujurnya, pertama kali saya memiliki pengalaman dengan inklusi gender di STEM dan khususnya di bidang teknik adalah hari pertama saya kuliah pada 20 tahun yang lalu. Saya duduk bersama 150 mahasiswa lainya dan pada saat itu saya menyadari tidak ada perempuan di fakultas saya, dan itu seperti universitas yang paling didominasi laki-laki.  Jurusan yang saya pilih  sangat rendah persentase  mahasiswa perempuannya. Mungkin sekitar 5%. Jadi, selama  5 tahun berkuliah di sana saya berdiskusi dengan  7 perempuan. Seingat saya mereka jika bekerja dalam kelompok dikenal yang paling bertanggung jawab, terpintar, dan mereka memiliki nilai terbaik,” jelasnya.

15 tahun setelahnya, Julio melihat beberapa di antara mereka mempunyai karir yang sukses dengan posisi yang tinggi, sementara lainnya tidak begitu, yang mungkin disebabkan berbagai pertimbangan yang terjadi dalam hidupnya. Sehingga dia merasa antusias juga menyampaikan bagaimana program MENTARI yang dipimpinnya juga mengedepankan gender dan inklusif di setiap elemen program kerja mereka.

Lebih jauh Julio memaparkan, meskipun ada aspek yang sangat menarik dari pekerjaan ramah lingkungan, namun dalam hal gender dan inklusi dan partisipasi perempuan, di MENTARI,  masih jarang menemukan perempuan yang bekerja di bidang energi baru terbarukan. Jika ada pun, mayoritas dari mereka menempati posisi pekerjaan yang lebih administratif.

“Jadi kami melihat di lapangan sangat dibatasi, tidak ditawarkan kesempatan yang sama atau memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki. Nah, beberapa kendala yang kita temukan dan yang pernah dibahas dalam sebuah literatur, khususnya di Indonesia adalah budaya dan norma sosial yang menjadi penghalang bagi perempuan untuk memasuki dunia kerja.  Beberapa di antaranya, seperti kita ketahui, budaya patriarkal masih melekat di Indonesia.  Perempua dianggap tidak pas menangani pekerjaan fisik, atau adanya masalah keamaanan di jalan saat menuju lokasi kerja juga sering jadi hambatan mobilitas perempuan,” jelasnya.

Hambatan-hambatan yang disebutkan Julio juga terungkap dalam cerita tiga narasumber perempuan tersebut di atas. Terlebih saat mereka harus menempuh pendidikan dalam kondisi hamil. Hal ini dialami Sri Fatmawati, yang saat studi post-doctoral di Jepang tengah hamil, dan salah satu professor menyuruhnya untuk kembali saja ke Indonesia.

“Sang professor belum pernah bertemu dengan peneliti perempuan yang bisa bekerja di laboratorium saat hamil dan setelah melahirkan,” ujar Sri Fatmawati, ahli kimia organik bahan alam yang saat ini memimpin OWSD Indonesia Chapter.

Bahkan Amelia, saat pertama kali bekerja sebagai engineer malah ada yang menyuruhnya memfotokopi dokumen, dan menganggapnya sebagai seorang perempuan yang lazim bekerja di bagian adminisratif di dunia kerjanya yang sangat didominasi laki-laki. Bahkan saat ke lapangan tidak jarang pekerja laki-laki sering mensiulinya.

“Memalukan memang, tapi saya tetap tegas dalam melakukan tugas saya,” tandasnya.

Dalam situasi yang menantang seperti itu, para perempuan di minta tidak menyerah. Sebaliknya harus menunjukkan kualitas diri dan kemampuannya secara maksimal. Hal ini ditekankan oleh Prof. Dwikorita Karnawati.

“Untuk para perempuan muda Indonesia yang tertarik untuk menekuni bidang STEM, apabila ada keraguan, silakan mencari informasi selengkap dan setepat mungkin. STEM sebenarnya sangat luas cakupannya, dari insinyur yang ke lokasi proyek di lepas pantai sampai peneliti di laboratorium, dan semua sama pentingnya. Yang penting kita tetap teguh, ulet, dan minta arahan kepada Yang Maha Kuasa, ke mana jalan yang paling tepat buat diri kalian masing-masing,” ujar Dwikorita.

Menurut data dari UNESCO, hanya sekitar 30% dari keseluruhan peneliti di dunia adalah perempuan. Selain itu, hanya 30% dari keseluruhan mahasiswa perempuan yang memilih jurusan terkait STEM di jenjang pendidikan tinggi. (Musfarayani/MENTARI/berbagai sumber)

===

Profil Narasumber:

Femmy Soemantri, yang sudah menggeluti bidang sains cukup lama dan saat ini dia memegang Partnership and Advocacy lead di Pulse Lab Jakarta.

Profesor Dwikorita Karnawati, Ph.D yang merupakan kepala dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika atau yang biasa kita kenal dengan BMKG. Beliau juga cukup di kenal legendaris sebagai Rektor UGM.  Dwikorita  juga alumni dari Leeds University di UK,  dan pernah di Tokyo University. Selain itu di kenal sebagai salah satu key figures atau tokoh utama untuk Indonesia tsunami early warning system.

Sri Fatmawati, S.Si, M.Sc, Ph.D.  Seorang Asisten Profesor di institut teknologi 10 November yang juga merupakan ketua dari Organisation of Women in Science for Developing World atau OwSD Indonesian National Chapter. Beliau alumni dari Kyushu University, dan banyak melakukan penelitian di Jepang dan  di Perancis. Sri Fatmawati juga pernah mendapatkan banyak sekali International Awards dari The Elsevier Foundation, Kartini awards, Inspiring Female Scientist, International L’Oreal-UNESCO For Women in Science Awards, dan banyak lagi.

Amelia Buddhiman. Ibu Amelia Budiman ini adalah salah satu sosok di STEM yang merupakan profesional STEM dari private sector. Amelia bekerja menjadi professional di biang STEM terutama energy terbarukan. Kini Amelia menjabat sebagai Project Manager di Akuo Energi dengan berbagai proyek, seperti memimpin Project MC Indonesia GP Project W3A dan juga total ENP solar fotovoltaik project.

Related Post