Kemitraan antara

Menuju Transisi Energi
Rendah Karbon di Indonesia

Prospek yang Lebih Cerah untuk Kaum Muda Desa Mata Redi

Photo 3
(Featured image)
Dukungan MENTARI untuk proyek percontohan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di desa Mata Redi, provinsi Nusa Tenggara Timur, meliputi dua program pelatihan yang dimulai pada Mei 2021. Yang pertama adalah pengoperasian dan perawatan PLTS dan yang kedua adalah pembuatan furnitur. Siapa saja yang berpartisipasi dan apa yang mereka peroleh dari pelatihan tersebut?

Jolinda Lubu Lena dari desa Mata Redi sangat gembira ketika ia melihat pengumuman program pelatihan pengoperasian dan pemeliharaan PLTS. Ia menyadari bahwa dengan mengikuti program tersebut ia bisa belajar mengelola PLTS yang sudah lama ditunggu-tunggu masyarakat dan ia bisa berkontribusi membangun desanya.

Pelatihan ini memberikan kesempatan bagi Jolinda dan kaum muda lainnya di desa, terutama bagi lulusan baru dari sekolah menengah dan sekolah kejuruan atau mereka yang harus putus sekolah. Di masa lalu, sangat sedikit kesempatan pelatihan semacam ini bagi pemuda Mata Redi, dan saat ini dengan dengan program pelatihan MENTARI yang juga menawarkan kesempatan kerja di masa depan, pelatihan ini menjadi lebih menarik.

Mengelola dan memelihara sistem kelistrikan tenaga surya di desa membutuhkan orang-orang yang terampil. Masyarakat setempat juga perlu terlibat penuh untuk menciptakan rasa memiliki. PLTS ini akan menjadi tanggung jawab masyarakat kedepannya yang akan menjamin keberlanjutan proyek.

Salah satu peserta, Linda, adalah lulusan SMK Kasimo Kererobo jurusan teknologi komputer dan jaringan: “Saya lahir dan besar di desa ini dan belum tahu rasanya ‘terang’ di rumah pada malam hari. Di malam hari, saya ingin melanjutkan belajar, sekedar membaca atau mendapatkan hiburan. Begitu mendengar program ini dan saya tahu PLTS sedang dibangun, saya langsung tertarik. Saya ingin membantu orang tua dan berkontribusi untuk desa saya. Yang terpenting, adik-adik saya tidak lagi belajar dalam gelap di malam hari.”

Vina, peserta lain, mengungkapkan pemikiran serupa. Semula ia ingin melanjutkan studi di universitas setelah lulus dari SMUN di Waibakul, namun orang tuanya memintanya untuk menunda selama satu tahun. Sambil menunggu, dia mendaftar untuk program pelatihan dan berhasil melewati proses seleksi.

Linda dan Vina mengikuti pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK) Don Bosco, Sumba Barat Daya pada Juni 2021, bersama delapan peserta terpilih lainnya – lima pria dan lima wanita, semuanya dari desa Mata Redi. Meskipun keduanya tidak memiliki pengetahuan dan pemahaman sebelumnya tentang kelistrikan, mereka berdua menikmati materi pelatihan. Vina menjelaskan: “Awalnya sulit mengikuti pelajaran. Tapi seiring berjalannya waktu, lebih menyenangkan. Kami peserta perempuan juga bersaing dengan peserta laki-laki. Yang kami suka bukan hanya pelajarannya saja [tentang listrik], kami juga diajarkan disiplin.”

Keterlibatan perempuan dalam pelatihan juga mendorong perubahan sikap masyarakat Mata Redi yang dulunya menganggap pekerjaan kelistrikan dan mebel hanya untuk laki-laki. Dengan terlibatnya perempuan dalam pelatihan ini, diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi kelompok perempuan di desa Mata Redi untuk berpartisipasi aktif dalam ranah yang sebelumnya didominasi oleh laki-laki.

Photo 1
MENTARI memberikan kesempatan yang sama kepada kaum muda desa Mata Redi, baik laki-laki maupun perempuan, untuk mengikuti pelatihan pengoperasian dan pemeliharaan PLTS, melalui proses seleksi yang terbuka dan transparan (Foto: dokumentasi MENTARI)

Selain pelatihan pengoperasian dan pemeliharaan PLTS selama tiga bulan, MENTARI juga mengadakan program pelatihan pembuatan mebel selama empat bulan untuk sekelompok kaum muda. Tujuannya adalah untuk meningkatkan keterampilan mereka dalam kerajinan kreatif dan pembuatan mebel. Hal ini juga akan meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Saat membahas program pelatihan, Dedy Haning, pemimpin proyek percontohan MENTARI mengatakan: “Program pelatihan yang diberikan adalah pelatihan kelistrikan sistem PV dan pelatihan pembuatan mebel, yang diajarkan oleh instruktur ahli di BLK Don Bosco. Kabar baiknya, ada 24 warga desa yang mendaftar, kebanyakan dari kaum muda. Namun, kami harus memilih hanya 10 peserta (lima laki-laki dan lima perempuan) untuk pelatihan kelistrikan dan 10 peserta (tujuh laki-laki dan tiga perempuan) untuk pelatihan pembuatan mebel.”

Ephrem Santos, Direktur BLK Don Bosco dan salah satu fasilitator utama dalam pelatihan, mengatakan: “Ini sesuai dengan visi dan misi kami yaitu menghasilkan tamatan yang unggul dalam berbagai jenis keahlian, agar cepat mendapat pekerjaan, mengurangi kemiskinan dan berkontribusi positif bagi masyarakat di Sumba.”

Ephrem menambahkan, ada beberapa tantangan dalam mengelola potensi dan kapasitas peserta. Namun, BLK Don Bosco menawarkan pendekatan yang manusiawi, nyaman dan membangun sikap positif para peserta terus mengembangkan diri.

 Kedua program pelatihan tersebut didanai sepenuhnya oleh MENTARI. Para peserta mendapatkan sertifikat dan peluang kerja di BUMDes desa Mata Redi dan mengembangkan usaha dengan memanfaatkan listrik yang baru tersedia di Mata Redi.

Related Post

Harapan Mengakses Listrik Desa Mata Redi

Masyarakat desa Mata Redi di provinsi Nusa Tenggara Timur sudah lama menunggu listrik. Jaringan listrik nasional belum menjangau desa tersebut. Jaringan listrik PLN terdekat berada